Ilustrasi Perjuangan menjadi Sukses


Seberapa miskin kamu? Ya itu pertanyaan yang harus anda jawab... Berikut share pengalaman saya.

Disclaimer: Bukan ajang dramatisasi kemiskinan, dan pamer kesuksesan. Hanya ajang pengingat jati diri agar ketika sukses tidak lupa diri.

Saya lahir tahun 1985, separuh lebih usia saya, saya lewati dalam kemiskinan. Jika anda baca kisah saya, anda mungkin akan merasa terlempar jauh kemasa-masa penjajahan dulu. Tapi percayalah, ini bahkan terjadi belum lama ini, mulai dari saya lahir sampai saya remaja ditahun 2002an.

Saya menulis ini, agar saya selalu ingat, dari mana saya berasal...

1. Keluarga saya tinggal disebuah kampung yang satu kampung 95% isinya saudara semua. Tapi saking miskinnya keluarga kami, kami tak pernah dianggap sbg saudara. Kalau ada orang bertanya dimana rumah kami, saudara-saudara kami ini akan menjawab "Oh dia tetangga saya." Yang jawab msh terhitung sepupu.

2. Saking tidak dianggapnya kami, sampai-sampai ketika kakek saya kecelakaan tertabrak motor dan meninggal dunia, orang-orang membiarkannya terkapar dijalanan, mereka hanya mengeremuni saja. Padahal orang yg terkapar ini adalah kakek mereka juga. Beruntung ada bapak saya, dia seorang diri yang mengangkatnya. Semoga Allah merahmati kakek.

3. Setelah meninggal, kakek saya dimakamkan jauh di pemakaman umum di pinggir kampung dekat hutan. Nenek saya juga. Saya bingung kenapa kakek nenek saya tidak di izinkan dimakamkan dipemakaman tengah kampung, padahal warga pendatang saja di izinkan dikubur disitu. Apa karena kami sangat miskin?

4. Ketika ibu hamil calon adik saya (yang tdk sempat lahir), beliau selalu mual, karena tak ada yg dimakan, dia makan daun atap rumbia yang sudah mengering diatas dapur kami, yg warnanya sudah hitam terkena asap dapur (sawang.) Kata ibu rasanya enak, asin-asin, spt keripik. Karena hal inilah bayinya membusuk didalam kandungan. Beruntung ada jamkesmas sehingga beliau bisa dikuret.

5. Makanan sehari-hari kami tdk menentu, kadang nasi dan garam atau kecap. Cukup mewah jika dapat membeli ikan asin usam.

Kadang hanya umbi-umbian. Jika selesai musim panen ubi, saya disuruh ibu mengekes ubi (mencari sisa ubi yg tertinggal). Pernah waktu itu musim hujan, tdk ada makanan sama sekali, ibu menyuruh saya dan adik mengekes ubi, biasanya setelah hujan sisa-sisa ubi akan bertunas atau menyembul dari permukaan tanah, tapi ternyata tdk ada ubi yang tersisa. Kami terpaksa mencuri beberapa potong ubi dari kebun orang. Langit mendung, hujan turun rintik-rintik, saya menggali ubi sambil terkekeh-kekeh menghibur diri, tapi diam-diam adik cewek saya ini menangis, dia baperan, cengeng sekali.

Ibu tdk tau kami mencuri. Ubi tsb kemudian dipotong-potong untuk makan selama beberapa hari. (Semoga ubi tsb halal karena kami kelaparan!) Kalau ingin makan sayur, kami cari pucuk daun singkong di pagar-pagar kebun orang. Kalau ingin makan ikan dan tdk ada uang dan cukup malu untuk berhutang, kami cari ikan cere, itu loh ikan-ikan kecil yang biasa hidup diparit-parit, baunya amis dan gak bisa garing, biasanya dimasak pepes dgn tongtolang supaya gak amis.

6. Hampir tidak pernah makan daging sapi, daging ayam sesekali saja pas lebaran. Kakek buyut saya, semasa hidupnya ingin sekali makan daging ayam, baru terpenuhi menjelang kematiannya, sambil menerawang kakek saya bilang "Kalau aki masih sehat pasti enak bgt makan sama daging ayam, sekarang aki udah sakit udah gak kepingin lagi." 3 hari kemudian beliau wafat.

7. Nasi jadi makanan langka nan mewah. Kakek saya bantu cari nafkah dengan berjualan kurungan ayam, kalau laku bisa beli beras seliter. Nasinya dibagi-bagi, seorang dapat jatah 1 pisin (tatakan cangkir) kecil. Cukup buat 2–3 kali suap, karna masih lapar (dan sebagai orang yang paling capek) kakek saya akan bilang "Neng, aki boleh minta sesuap lagi?" lauknya? Seingat saya cuma nasi.

8. Hampir setiap pagi sebelum sekolah saya hanya sarapan buah jambu biji yang masih muda, metik dihalaman. Pergi sekolah dalam keadaan lemas, pulang sekolah juga msh tidak ada makanan yg bisa dimakan. Setelahnya biasanya ibu menyuruh saya dan adik berhutang diwarung, kadang dapat hutangan kadang dapat omelan. Kalau dapat omelan adik saya akan menangis sepanjang jalan pulang, karna lapar dan karna malu mungkin.

9. Karena miskin dan papa. Di sekolah selalu jadi korban bully, saya jadi nobita, seisi kelas jadi giant. Saya jarang dikasih bangku, pernah diceburin kekolam ikan, dimasukin tong sampah, digampar dll. Kalau ada yg ulang tahun saya diundang tapi gak pernah diajak photo. Kalau ada yang khitanan dan diarak keliling kampung dgn delman, saya sendiri yang gak diajak, padahal saya ada disitu. Ditinggal sendirian gitu aja.

10. Bapak saya cuma tukang papan penggilesan, itu loh yang biasa buat dipakai alas mencuci pakaian. Sebulan hanya bisa menyelesaikan beberapa buah, lalu dibawa ke jakarta dgn menumpang truk semen, kadang laku kadang tidak. Kalau laku, kami bisa makan mewah, ada beras, lauk asin dan sayur toge. Tapi biasanya uangnya habis utk bayar hutang. Bpk dan ibu cerai waktu saya msh kanak2. Setelahnya keadaan jadi semakin sulit.

11. Kami sering kali keracunan makanan karena memakan sesuatu yang tidak layak dimakan, saya pernah keracunan karena makan biji randu/kapuk yg disangrai pernah juga mabok karena makan biji rambutan yg dibakar. Ibu saya pernah keracunan kluwek dan gadung.

12. Sekolah pertama saya adalah milik sebuah keluarga, bukan yayasan. Selama di madrasah saya sekolah pakai sandal jepit butut, karena tidak mampu bayar spp setiap jam istirahat saya dipekerjakan sama pemilik sekolah, kadang di suruh cuci baju, kadang mencari kayu bakar dll. Udah mah lapar, disuruh-suruh pula. Saya hanya mampu sekolah sampai SMP.

13. Sampai usia remaja kami tidak punya televisi. Biasa di hari minggu saya pergi ke halaman samping rumah tetangga yg berada, dari halaman samping rumahnya, lewat jendela, samar-samar saya bisa melihat doraemon tayang di rcti, kalau ketahuan, hordengnya langsung ditutup.

14. Rumah kami sangat bobrok, sepenuhnya dari bambu dan bilik. Lantainya dari tanah. Tidak layak disebut rumah sebetulnya, disebut gubug pun kurang pantas, lbh mirip kandang kambing. Bolong sebesar bola kasti dimana-mana. Alas tidur hanya tikar pandan diatas bale-bale bambu, sampai pertengahan tahun 90an tidak ada listrik dirumah kami, penerangan hanya dgn lampu minyak yg banyak asapnya, tiap bangun pagi muka kami belepotan bekas asap hitam dan mendadak kumisan.

15. Setelah remaja, paling bingung kalau diundang kondangan. Selain gak bisa kasih angpao, saya juga gak punya baju layak pakai. Satu-satunya baju saya yang agak layak pakai adalah baju pramuka . Kalau terpaksa harus datang (biasanya karena ada yg bayarin angpao) saya akan dtg dgn memakai baju pramuka tadi. Lumayan lah ya, kalau perginya malam kan gak terlalu keliatan.

16. Karena kami miskin, kami tidak dianggap dan dipandang hina. Dan kalau kami di hina, kami hanya bisa diam. Kalau saya tanya ibu saya kenapa kami diam saja, ibu saya akan menjawab sebagaimana dulu nenek saya menjawab kalau ditanya ibu "Terima aja, semua yang mereka bilang benar. Kita mah orang lemah, saking lemahnya nginjak kotoran ayam aja kotorannya gakan gepeng." Sampai sekarang, kalau kami di hina orang, kata-kata ini selalu terngiang.

Beruntung setelah menginjak remaja keadaan mulai membaik, saya mulai bisa bantu keluarga dgn kerja serabutan. Dan biarpun saya dari kalangan bawah, kebanyakan teman saya adalah org berada dan terpelajar, mereka senang dgn saya karena menurut mereka saya (agak) pintar. Mungkin karena kebiasaan membaca saya sedari kecil.

Dukungan moril dan tambahan ilmu dari kawan-kawan yang terpelajar dan baik inilah yang sedikit banyak telah membantu saya menjadi spt sekarang ini.

Sekarang Alhamdulillah saya sudah mapan, mengurus perusahaan kecil-kecilan dan bisa tetap menggaji pegawai meskipun dalam masa krisis sekarang ini.

Kita boleh saja susah, tapi kita jangan menyerah, dan jangan diam saja berkubang dalam kesusahan. Harus ada semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Pemikiran kita harus maju dgn terus belajar dan belajar. Pergaulan juga menentukan. Kata orang, bergaul dgn siapa saja jangan pilih-pilih, mohon maaf, saya hanya akan bergaul dgn orang-orang yang baik, tulus dan selalu peduli utk membantu sesama. Yang paling utama, diatas segalanya, jangan lupa berdoa.

"Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai ia merubah apa yang ada pada dirinya sendiri."


Salam Sukses untuk Semua.